Archive

Uncategorized

TEMPO.COSurakarta -Sejumlah tari klasik dari Pura Mangkunagaran akan dipamerkan ke publik dalam Mangkunegaran Performing Art 2012. Kegiatan tahunan itu  digelar  pada 11-12 Mei 2012.

Menurut Pengageng Reksa Budaya Pura Mangkunegaran, GPH Herwasto Kusumo, sebagian tari yang akan dipentaskan di malam pertama merupakan gubahan langsung dari Mangkunegara. “Sedangkan di hari kedua ada beberapa tari gubahan baru,” katanya, Rabu 9 Mei 2012.

Di hari pertama, mereka akan menampilkan  Gambyong Retno Kusumo gubahan Mangkunegara VIII. Tari tersebut mengisahkan tentang putri keraton yang tengah merias diri. “Kami juga akan mementaskan tari Banda Baya yang diciptakan oleh Mangkunegara IV,” katanya.

Pada hari kedua, mereka akan mementaskan sejumlah tarian seperti Jaranan, Puspito Retno serta Panembrono. “Tari-tarian di hari kedua ini kebanyakan berupa kreasi baru,” kata Herwasto. Pementasan selama dua hari itu bisa disaksikan secara gratis oleh masyarakat.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta, Widdi Srihanto menyebutkan jika kegiatan tersebut sudah ketiga kalinya digelar. “Kegiatan ini juga sudah masuk di calender event Kota Surakarta,” katanya.

Dia berharap, kegiatan budaya tersebut bisa mendorong pariwisata di Kota Surakarta. Selain itu, Mangkunegaran Performing Art itu diharapkan mampu mengenalkan kembali tarian klasik dari dalam Pura Mangkunegaran.

Ahmad Rafiq

Solo Walikota Surakarta, Joko Widodo, memamerkan busana yang biasa dikenakan oleh para model peserta Solo Batik Carnival (SBC) kepada tamunya yang merupakan penyelenggara pawai Pasadena di Amerika. Para tamu mengaku terkesima dengan rancangan busana tersebut dan menyampaikan undangan SBC tampil di Pasadena. Namun karena harus mengeluarkan biaya cukup tinggi, Joko Widodo tidak langsung menyanggupi.

Para tamu dari Pasadena tersebut datang ke rumah dinas Walikota Surakarta, Senin (23/7/2012) siang. Mereka datang untuk melihat langsung desain kostum serta dokumentasi-dokumentasi acara SBC yang telah berlangsung sebanyak 5 kali di Solo. Hal itu dikarenakan SBC dipilih dan direkomendasikan merupakan pilihan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk mewakili Indonesia tampil dalam ajang karnaval bunga terbesar sejagat itu.

Setelah mengamati secara langsung kostum yang dikenakan dua model serta menyaksikan slide gambar-gambar maupun video SBC, tim dari Pasadena menilai SBC layak tampil di Tournament of the Rose Pasadena pada 1 Januari 2013 mendatang.

“Solo Batik Carnival ini sangat bagus. Kami sangat berharap tim dari Solo Batik Carnival bisa ikut meramaikan acara kami di Pasadena nanti,” kata LO Tournament of Roses Pasadena, Greg Asbury, kepada wartawan, usai pertemuan dengan Jokowi.

Deputy Director International Tourism and Promotion for America and Pasifik, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Vinsesius Jewadu mengatakan pihaknya berinisiatif mengirim lagi perwakilan ke Tournament of Roses di Pasadena setelah 16 tahun tidak mengirim wakil. Setelah melalui berbagai pertimbangan pihak kementerian menunjuk Pawai Bunga Tomohon. Namun karena pihak Tomohon tidak bisa berangkat karena bersamaan dengan pawai tahunan maka pilihan berikutnya adalah Solo Batik Carnival akan mewakili Indonesia.

Jokowi menanggapi tawaran itu dengan menyatakan akan berusaha mencarikan dana untuk bisa mengirim peserta SBC di acara bergengsi tersebut. Jokowi meminta waktu sepekan untuk berkonsultasi dengan DPRD dan mencarikan sumber-sumber dana yang mungkin bisa digali untuk mendanai tim SBC berangkat ke Amerika.

“Ini suatu kehormatan untuk bisa diundang tampil di acara bergengsi itu. Saya minta waktu sepekan untuk memberikan jawaban atas tawaran itu karena dana sebesar itu ya harus diupayakan dulu. Kami akan bahas dulu dengan DPRD karena anggaran karena untuk memberangkatkan peserta SBC itu cukup banyak. Meskipun nanti akan ada bantuan dana dari kementerian namun yang harus kita keluarkan masih cukup banyak juga,” ujarnya.

 

Copy@detik.com

SOLO–Event tahunan Grebeg Sudiro 2012 siap digelar di kawasan Pasar Gede Solo, Minggu (15/1/2012) besok. Sekitar 2.000 peserta bakal berpartisipasi dalam festival yang dihelat dalam rangka memeringati Tahun Baru Imlek di Kota Solo tersebut. Mereka akan mengusung berbagai potensi yang ada di wilayah Kelurahan Sudiroprajan dan sekitarnya.

Ketua Panitia Grebeg Sudiro 2012, Yunanto Nugroho saat ditemui di Kantor Kelurahan Sudiroprajan, Jebres, mengemukakan hingga Sabtu (14/1/2012) siang, persiapan perhelatan tersebut telah mencapai 90 persen. Dimulai dari pemasangan lampion di seluruh kawasan Pecinan dan Pasar Gede beberapa waktu lalu, pendirian panggung di pertigaan Tugu Jam Pasar Gede, hingga gunungan kue keranjang yang akan dikirab sebagai bagian dari acara Grebeg Sudiro 2012 tersebut.

“Yang kami buat beda dibandingkan dengan penyelenggaraan Grebeg Sudiro tahun lalu salah satunya dari kostum peserta. Selain itu, kegiatan ini juga akan dimeriahkan dengan keikutsertaan warga dan kalangan pedagang Pasar Gede, termasuk Paguyuban Pambiwara yang pada saat kirab, rencananya akan turut serta dengan mengusung Codang Loro Blonyo,” beber Yunanto.

Ditambahkannya, kirab akan diikuti sekitar 1.770 orang dari 44 kelompok, termasuk di antaranya kelompok kesenian, kelompok usaha bersama (Kube) dan sebagainya. Dengan digelarnya acara tersebut, lanjut Yunanto diharapkan dapat menjadi simbol adanya pembauran antara dua etnis yang berbeda yang tinggal di lingkungan Sudiroprajan.

“Tidak hanya dari wilayah Kelurahan Sudiroprajan, kami juga mengajak warga dari kelurahan di sekitar Sudiroprajan untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini, antara lain dari Kelurahan Jagalan, Kelurahan Kadipiro dan Kelurahan Mojosongo, termasuk 12 kelompok dari 44 kelompok yang akan ikut kirab itu, berasal dari luar Solo,” imbuhnya.

(JIBI/SOLOPOS/Septhia Ryanthie)

Wakil Walikota Solo F.X. Hadi Rudyatmo pun turut datang dan memberikan sambutan pada acara ini. Senada dengan Yunanto, ia berharap Grebeg Sudiro bisa menjadi alat pemersatu bangsa. Dalam sambutannya, ia juga mengucapkan rasa syukur karena baik jumlah peserta maupun penonton terus bertambah. Grebeg Sudiro Grebeg Sudiro 2012: Simbol Eratnya Toleransi Warga Solo 

Mahesa Lawung Kerbau Penyelamat

Tim Potret SCTV

29/03/2012 06:25

Liputan6.com, Solo: Solo. Tanah tumbuhnya kepribadian masyarakat Jawa. Jauh ketika raja-raja Kasunanan dan Mangkunagaran berkuasa penuh serta Surakarta masih bersifat istimewa, fungsi keraton tidak cuma sebagai pusat pengembangan seni budaya Jawa seperti saat ini. Fungsi yang mengubah status kerajaan sama rata dengan rakyat di bawah naungan republik.

Tapi ini kota cermin, tempat kepribadian dan keyakinan masyarakat Jawa hidup serta berkembang. Dan tidak bisa dipungkiri, peran keraton masa lampau begitu besar membentuk tradisi orang-orang Jawa masa kini.

Cap yang melekat kental adalah Jawa identik dengan kejawen. Jeyakinan yang meski tidak seformal agama resmi, tumbuh, dan menjadi pedoman sebagian besar orang Jawa keseharian. Sebuah sikap yang mustahil hilang. Sebab ada banyak alasan warisan nenek moyang dilestarikan meski ajaran pengesaan Tuhan pun telah datang.

Dalam waktu dekat, tepat 40 hari setelah Grebeg Maulud digelar, Keraton Surakarta bakal melaksanakan prosesi besar. Prosesi rutin yang bertujuan menyeimbangan alam dan nasib manusia.

Melibatkan para abdi dalam juga sesepuh keraton, ritual ini menjadi penting karena dilakukan demi keselamatan banyak orang, bahkan negara. Prosesi ini dikenal dengan sebutan mahesa lawung. Mahesa lawung dalam tradisi Jawa sebetulnya tersimpan pemaknaan dan laku tirakat serta ruwatan. Ini bisa juga disebut meruwat dewa yang salah tempat, sehingga menjadi penyebab segala bencana.

Catatan sejarah tradisi ini mulai tertera pada zaman dinasti Syailendra-Sanjaya yang tampak dalam arca Durga Mahesa Suramandini. Prosesi mahesa lawung sekarang ini hampir mengikuti tradisi itu, dibunuh dengan cara disembelih sebagai sajian rajasuya. Kerbau dalam alam pikir kejawaan bukanlah sekadar sesaji ritual. Kerbau adalah simbol penyelamat agar hidup terhindar dari hal-hal buruk.

Hari sakral pelaksanaan mahesa lawung lazimnya jatuh pada Senin atau Kamis. Tapi, tahun ini, Kamis adalah hari pilihan berdasarkan hitungan kalender baik dan buruk. Kebaikan dan keburukan adalah dua hal penting. Sebab pada prosesi yang dilatari kisah Jaka Tingkir sebelum mencapai mahesa jenar atau menjadi raja ini, kebaikan adalah tujuan utama.

Menggelar mahesa lawung sama artinya merangkai upacara wilujengan nagari. Menghimpun kesadaran bersama untuk sanggup menderita dan sengsara atau berkorban demi keselamatan dan ketenteraman.

Dalam tradisi Jawa, ruwatan tak bisa dilepaskan dari segala sesaji. Sajian yang dipersiapkan bukanlah sekadar persembahan ulam-ulaman pelengkap kepala kerbau. Kerbau memang aktor penting dalam prosesi mahesa lawung. Tak boleh sembarang kerbau. Yang dipakai haruslah kerbau perjaka atau belum pernah dipekerjakan.

Kepala dan kakinya menjadi sesembahan utama, bersama walang atogo atau berbagai jenis belalang sebagai simbol rakyat jelata. Lewat perngorbanan seekor kerbau, bencana yang menimpa banyak orang diharapkan bisa berkurang. Sebagian besar masyarakat berdarah Jawa percaya, mitos mahesa lawung inti dasarnya adalah sebagai jalan untuk mengontrol alam seperti gunung atau lautan.

Kesetiaan keraton kepada tradisi leluhur adalah alasan mahesa lawung rutin digelar dari generasi ke generasi. Ini memang soal keyakinan. Mereka tak berani meninggalkan adat dan ritual ini. Mereka percaya, ada kekuatan lain di luar diri manusia yang dengan mahesa lawung kekuatan gaib itu akan memberi balasan. Akan ada hal buruk yang terjadi bila ritual ini mereka tinggalkan begitu saja.

Puncak prosesi mendekati inti acara. Kini saatnya membawa sesaji ke hutan dengan berjalan kaki. Alas krendha wahana, inilah hutan keramat yang diyakini sebagai tempat bersemayam Bathari Kalayuwati, pelindung gaib keraton di bagian utara. Di sinilah ritual penanaman kepala kerbau bakal dilaksanakan, termasuk barang-barang mentah lain sebagai tumbal penyelamat.

Kesakralan Punden Bathari Durga bukanlah sebuah rahasia. Niat suci mengikuti prosesi mahesa lawung adalah harga mati. Andai saja terbesit pikiran buruk, mereka percaya akan memunculkan hal gaib di Punden Bathari Durga. Biasanya, untuk meluluhkan penunggu punden dan menetralisir kekuatan gaib yang buruk, juru kunci rutin memberi sesaji. Dan persembahan kepala kerbau adalah sajian utama dari pihak Keraton Surakarta sebagai wujud ucapan terima kasih.

Doa-doa pun dirapalkan, harapan dipanjatkan. Tepat setelah 40 hari sekatenan, Keraton Surakarta selesai menjalani kewajiban memohon keselamatan. Keselataman yang dirindukan sebab bencana hanya melahirkan ketakutan-ketakutan.(BOG)

Satu lagi festival menyemarakkan kota Solo, “Bengawan Solo Gethek Festival“ yang diselenggarakan Minggu 20 November 2011. Ratusan masyarakat Solo memenuhi tepian Bengawan Solo di desa Ngepung, Pasar Kliwon tempat titik berangkat gethek peserta festival ini. Gethek-gethek ini menyusuri Bengawan Solo sampai di Jurug. Festival ini menampilkan 40 gethek. Berbagai gethek yang mengikuti festival ini dihias dengan berbagai tema, gethek bangsawan, gethek prajurit, gethek pedagang, dan lain-lain.

Gethek merupakan alat transportasi air yang terbuat dari batang-batang bambu yang dirakit sedemikian rupa sehingga bisa dinaiki di atasnya dan menggunakan batang bambu atau dayung untuk melaju. Jaman dulu, sekitar abad 17-19, lalu lintas di Bengawan Solo (sungai terpanjang di Jawa) diramaikan dengan gethek dan perahu sebagai alat transportasi. Pedagang dan penduduk pada umumnya melakukan mobilitas dengan memanfaatkan transportasi air di Bengawan Solo ini.

Ketika transportasi darat sudah mendominasi sekarang ini, orang tidak lagi melihat arti penting jalur air yang pernah berjaya di masa lalu. Bengawan Solo menjadi tidak terperhatikan, tumpukan sampah yang hanyut dan menyangkut di tepiannya menghiasi pemandangan sepanjang sungai ini. Apalagi ketika musim hujan tiba, luapan air membanjiri dan membawa serta sampah-sampah di sepanjang alirannya.

Festival Gethek ini mengingatkan kembali sejarah masa lalu yang menjadi milik bangsa ini. Memandangi arus sungai yang cukup deras dan gethek serta perahu melaju di sepanjang alirannya memunculkan kesadaran betapa kita tidak terlalu abai dengan ‘kekuatan’ Bengawan Solo, warisan budaya yang telah menjadi saksi peradaban panjang manusia sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.

UNESCO telah menetapkan batik sebagai salah satu warisan budaya asli Indonesia. Museum Batik Danarhadi adalah museum batik terbaik dan terlengkap di dunia, memiliki lebih dari sepuluh ribu helai kain batik, salah satunya adalah Batik Snow White.

MUSEUM BATIK KUNO DANAR HADI
Jl. Slamet Riyadi 261 Surakarta
Phone:
+62 271 714326

MUSEUM BATIK KUNO DANAR HADI – Museum Batik Terlengkap di Dunia

Batik sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu. Teknik pewarnaan kain ini menggunakan lilin batik (malam) untuk mencegah masuknya warna di bagian-bagian tertentu. Pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai salah satu Warisan Kebudayaan Dunia. Didorong oleh kecintaannya terhadap batik, Haji Santosa Doellah yang juga pemilik usaha Batik Danarhadi ini mengumpulkan batik dari seluruh penjuru negeri. Hingga kini koleksinya sudah mencapai lebih dari sepuluh ribu lembar kain batik kuno, 600 di antaranya dipamerkan di Museum Batik Danarhadi.

Dari Batik Kraton, Batik Belanda, hingga Batik Tiga Negeri

Seorang pemandu menyapa dengan ramah dan kemudian mendampingi tour 1,5 jam menjelajah museum. Ruang galeri pertama berisi koleksi Batik Belanda yang sebagian besar berbentuk sarung dengan dominasi motif bunga, dedaunan, hewan terutama burung dan kupu-kupu. Batik Belanda umumnya tampil dengan warna-warna cerah seperti merah, hijau, oranye, dan merah jambu. Di dinding terpajang foto-foto orang Belanda yang sedang mengenakan kain batik.

Ruang galeri kedua dipenuhi dengan koleksi Batik Kraton, baik Kraton Surakarta, Mangkunegaran, Yogyakarta, maupun Pakualaman. Motif batik dari keempat kraton ini hampir sama, hanya modifikasi motif dan cara pemakaiannya saja yang berbeda. Ada pula koleksi yang disebut dengan Batik Tiga Negeri. Batik yang menggunakan tiga warna yaitu merah, biru, dan coklat ini ternyata dibuat di tiga tempat yang berbeda. Pemberian warna merah dikerjakan di Lasem, warna biru di Pekalongan, sementara warna coklat di Solo. Karena itulah jenis batik ini dinamakan Batik Tiga Negeri.

Koleksi lain yang bisa dinikmati adalah Batik China, Batik Jawa Hokokai (batik yang terpengaruh oleh kebudayaan Jepang), Batik Pesisir (Kudus, Lasem, Pekalongan), Batik Sumatra, Batik Saudagaran, Batik Petani, Batik Kontemporer, dan berbagai jenis batik lainnya. Salah satu yang menarik perhatian adalah Batik Cirebon. Selain pengaruh China, jenis batik ini memiliki motif-motif sayap yang menunjukkan pengaruh budaya Hindu dari Kerajaan Mataram Kuno.

Yang tidak boleh dilewatkan adalah koleksi spesial museum ini. Ada beberapa koleksi batik kuno dengan motif unik yang terinspirasi oleh cerita rakyat ataupun cerita legenda. Salah satunya adalah motif Snow White. Batik ini dibuat dengan motif berupa gambar-gambar yang bertutur tentang cerita Snow White. Cerita dimulai ketika ibu tiri Snow White diberitahu oleh cermin ajaib bahwa Snow White adalah wanita tercantik di negeri mereka. Ini membuat sang ibu tiri marah dan membuangnya ke dalam hutan. Gambar-gambar terus berlanjut menceritakan kehidupan Snow White di dalam hutan bersama tujuh kurcaci, makan apel beracun, sampai dengan pertemuannya dengan pangeran yang membangunkannya dari tidur panjang. Batik Snow White yang termasuk dalam jenis Batik Belanda ini didesain oleh wanita Indo-Belanda pada pertengahan abad ke 19. Meskipun demikian, pengerjaannya tetaplah dikerjakan oleh orang-orang Indonesia. Selain itu masih ada beberapa batik dengan motif yang bercerita tentang Hans and Gretel, Little Red Riding Hood, dan bahkan cerita Perang Diponegoro.

One Stop Batik Shopping

Pemandu tour kemudian membawa YogYES ke bagian belakang museum. Suasana kontras langsung terasa. Keanggunan ruang pameran berganti dengan suasana pabrik yang dinamis. Di ruang besar tanpa sekat itu ratusan orang sibuk mengerjakan proses pembuatan batik dari awal sampai akhir. Bila ingin mempelajari teknik pembuatan ini lebih dalam lagi, museum juga menawarkan paket workshop pembuatan batik tulis satu warna selama 5 hari.

Puas menikmati koleksi batik-batik antik dan menyaksikan proses pembuatan batik yang rumit, mata kemudian dimanjakan oleh koleksi batik cantik dalam berbagai produk. Kemeja resmi, gaun-gaun cantik, hingga sarung bantal dan aneka produk lainnya bisa dibeli disini. Museum Batik Danarhadi dengan konsep One Stop Batik Shopping ini benar-benar menjadi surga wisata bagi para pecinta batik, baik lokal maupun internasional.

Copyright © 2010 YogYES.COM