Solo Keroncong Festival

pasar Triwindu Ngarsopuro Solo pada Kamis sore (29 September 2011) terlihat ramai dan jalanan ditutup untuk lalu-lintas umum. Persis di halaman depan pasar barang antik tersebut berdiri panggung terbuka alias tanpa atap dengan ukuran 10 m x 8 m dan tinggi tidak lebih dari 60 cm. Latar belakang panggung merupakan bangunan pasar, yang menambah suasana keramaian menjadi semakin klasik mirip gaya pasar rakyat tempo dulu.

Solo Keroncong Festival, sebuah tulisan judul acara tergantung menjadi latar depan bangunan pasar. Penataan pagelaran musik yang bagi kalangan muda kebanyakan dianggap kuno atau jadul ini tampak sederhana tapi elegan. Dan pas dengan sajian lantunan musik keroncong yang lembut namun juga dinamis. Pada gelaran festival ini melibatkan 20 grup keroncong dari beberapa kota di Indonesia, mulai dari Palembang, Kalimantan Selatan, Semarang, Yogyakarta, dan Solo. Dan yang menarik justru keterlibatan seniman dari mancanegara seperti Hongaria, Italia, Australia, Jepang, Singapura dan Hongkong.

Festival ini tak ubahnya sebagai sebuah hajatan pasar malam atau pasar rakyat untuk masyarakat Solo dan menggema ke penjuru negeri untuk memberikan inspirasi akan kreasi berkesenian. Sebuah seni pertunjukan dengan mengangkat kekayaan budaya sendiri menjadi pilihan yang bisa mendatangkan kecintaan, atau minimal bisa terus mengingatkan bahwa musik keroncong masih enak untuk dinikmati.

Dari Waldjinah hingga Agnes dari Hongaria, dari siswa SD hingga kakek nenek, semua berperan di atas panggung dan di luar panggung. Banyak macam kegembiraan disatukan dalam gelaran Solo Keroncong Festival ini. Aneka jajanan tradisional mendapatkan tempat melengkapi keramaian Solo di waktu malam. Wedang ronde, sate Madura, pempek Palembang, nasi liwet, cabuk rambak, pecel Madiun, angkringan, siomay Bandung dan banyak lagi aneka makanan menemani lantunan musik keroncong hingga Sabtu malam (1 Oktober 2011) di pasar Ngarsopuro. Warna-warni kehidupan pasar rakyat menambah meriahnya gelaran festival ini.

Kerumunan masyarakat yang terus berdatangan hingga dinihari ini cukup memberikan kebahagiaan bagi seniman keroncong yang tampil, keraguan akan hilangnya penikmat musik jenis ini agak sedikit terobati. “ Bagus, sangat bagus, banyak yang masih suka kok dengan keroncong….yang muda juga banyak”, komentar Waljinah (pelantun Walang Kekek yang tetap eksis di jalur musik keroncong hingga kini). Memang tidak dipungkiri, keramaian layaknya pesta rakyat itu bahkan belum surut saat waktu sudah menunjukan pukul 00:30, dan beberapa jajananpun bahkan ada yang sudah habis sebelum pertunjukan selesai.

Solo Keroncong Festival benar-benar membawa angin segar bagi para musisi jalur musik ini, minimal saat acara digelar, semua kegalauan sedikit terobati. Beberapa dari musisi keroncong yang mengisi acara tersebut merasa bahwa keroncong bagi mereka adalah sebuah pilihan, dan bagaimana masyarakat menerima atau menjadi suka keroncong, itu adalah upaya. Upaya itu bisa datang dari siapa saja dan dimana saja. Salam kratonpedia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: