Kirab Agung Akhiri ”Matahari Kembar” Keraton Surakarta

TEMPO.CO, Surakarta – Tekad Keraton Kasunanan Surakarta untuk mengakhiri konflik internal yang telah berlangsung selama delapan tahun terlihat serius. Mereka mengumumkan rekonsiliasi yang telah tercapai kepada masyarakat melalui sebuah kirab, Ahad 17 Juni 2012. Dua kubu yang pernah bertikai memamerkan kerukunan.

Penguasa Keraton Kasunanan, Paku Buwana XIII Hangabehi, yang selama ini jarang muncul di publik juga ikut dalam kirab. Dengan mengenakan pakaian kebesaran raja berwarna hijau dia mengendarai kereta kencana pusaka bernama Kyai Garoedopoetro yang ditarik empat kuda. Kereta tersebut merupakan peninggalan PB X yang sudah berumur lebih dari seabad.

Sedangkan Tedjowulan, yang pernah mengukuhkan diri sebagai raja, memilih menunggang seekor kuda. Pembesar keraton yang saat ini menjabat sebagai wakil raja itu terlihat sangat ceria. Sembari terus mengembangkan senyum, beberapa kali dia terlihat menepuk leher kudanya. “Sudah dua tahun tidak naik kuda,” ucapnya kepada para pengiringnya.

Sejumlah kerabat keraton lain juga terlihat terlibat dalam penyiapan kirab hingga ikut dalam barisan. Namun memang tidak semua kerabat ikut, termasuk GKRay Koes Murtiyah, Ketua Dewan Adat Keraton. “Sebenarnya banyak yang ingin ikut, tapi kuda dan keretanya terbatas,” kata KP Satryo Hadinagoro, salah seorang kerabat keraton.

Menurutnya, keraton ingin mengumumkan kepada masyarakat mengenai telah terjalinnya rekonsiliasi antara PB XIII Hangabehi dan PB XIII Tedjowulan yang saat ini telah melepaskan takhtanya. Selama ini masyarakat hanya mengikuti kabar rekonsiliasi melalui media massa.

Keberadaan raja kembar di Keraton Surakarta itu sebenarnya sudah berakhir sejak penandatanganan pakta rekonsiliasi bulan lalu di Jakarta. Hangabehi dan Tedjowulan menandatangani kesepakatan untuk membentuk Dwitunggal. Kemudian rekonsiliasi itu semakin dikukuhkan dengan masuknya Tedjowulan ke keraton pada kegiatan Tingalan Dalem Jumenengan, Jumat akhir pekan lalu.

Juru bicara Dwitunggal, KRH Bambang Pradatanegara, juga sepakat jika dikatakan kirab ini bertujuan untuk mengumumkan terjadinya rekonsiliasi kepada masyarakat Surakarta. “Tidak semua orang bisa menyaksikan kegiatan Jumenengan di dalam keraton kemarin,” katanya.

Meski telah dirayakan besar-besaran, rekonsiliasi tersebut masih harus melalui jalan yang panjang. “Saat ini rekonsiliasi belum selesai,” kata Bambang. Mereka harus segera berkonsentrasi untuk melakukan reunifikasi semua unsur dalam keraton.

Dia mengakui konflik yang telah terjadi selama delapan tahun telah menyebabkan keretakan yang harus diperbaiki. “Konflik yang pernah terjadi tidak hanya melibatkan Hangabehi dan Tedjowulan,” katanya. Namun masing-masing memiliki pendukung yang loyal. Bahkan abdi dalem yang jumlahnya mencapai puluhan ribu juga ikut terpecah.

Konflik yang terjadi ke Keraton Surakarta itu terjadi sejak delapan tahun lalu, saat PB XII meninggal dunia tanpa menunjuk permaisuri dari keenam istrinya. Akibatnya, dua anaknya berebut kekuasaan. Hangabehi berhasil menduduki takhta dalam keraton. Sedangkan Tedjowulan memilih keluar dari keraton dan mendirikan takhta di Sasana Purnama, Badran. Upaya pemerintah dalam mendamaikan dua raja itu baru terwujud saat ini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: